Why Iam So
PLIN-PLAN ??
Di dunia ini
banyak banget hal yang harus kita pilih. Dari mulai pilih jalan menuju warung
terdekat dari rumah kita, milih teman terdekat, milih sekolah yang pas di hati
sampai tak terhingga hal yang harus kita pilih. So.. hidup ini pilihan???
Sedetik, dua
detik, tiga detik… saya harus berfikir untuk selanjutnya akan mengetik apa lagi
dalam paper ini. Why iam so think harder? Itu karena saya tidak ingin
menuliskan sesuatu yang pembaca tidak suka. Jadi saya perlu berpikir keras
untuk menentukan huruf-huruf apa saja yang lalu akan dirangkai hingga menjadi
kalimat dan paragraph sehingga dapat dinikmati dan mudah dimengerti pembaca.
Ini adalah contoh kecil pilihan.
Terkadang hidup
ini memang terlalu rumit untuk kita butuh berpikir dan kemudian memilih mana
yang menurut kita tidak salah, tetapi tidak pula sepenuhnya akan benar.
Banyak hal yang
mendasari saya memilih jalan hidup seperti ini. Penuh ombang ambing bagai di
sebuah perahu.emmm satu-satunya perahu yang ada ditengah laut. Saat perahu itu
dalam keadaan tenang disebabkan oleh ombak yang tenang pula. Itu bagai di titik
aman dalam kehidupan. Titik nyaman melihat keindahan langit dan permukaan laut
seluas mata memandang. Yang membuat 90% orang enggan beralih dari posisi itu.
namun tak selamanya titik itu menjadi titik kebahagiaan. Ada saat-saatnya kamu
sudah puas dengan melihat keindahan langit dan permukaan laut dan entah mau
kemana setelahnya. Apakah akan terus berlayar di laut? Berputar-putar diposisi
itu berusaha tetap berada diposisi nyaman saat ombak datang? Atau
berpindah-pindah tetapi tetap berada di laut?
Sadarkah kamu
bahwa saat kamu hanya memperhatikan langit dan permukaan laut, masih ada ikan
dan terumbukarang yang indah di bawah permukaan laut. Dan masih ada
berjuta-juta bintang di luar angkasa sana dengan keindahan galaksinya. Hidup ini luas tak
terbataskan. Dan kamu ditugaskan oleh hati untuk memilih titik mana
yang kamu idamkan utnuk menjadi titik kebahagiaanmu. Masih ada daratan.
Pegunungan. Desa. Kota. Keindahan malam kota. Mall dan masih banyak lagi
keindahan alam semesta yang menjadi sejuta hal yang perlu kamu pilih untuk
menjadi titik kebahagiaan mu.
Bersyukurlah
yang diberikan kesempurnaan pancaindra.
Permasalahannya
adalah, jika saya menyukai semua hal itu. maka saya ini dianggap plinplan????
Saya ingin merasakan itu semua dan menghargai keberadan titik titik koordinat
alam semesta.satu per satu.
Mungkin mereka
anggap saya maruk, mungkin mereka anggap saya tidak konsisten di satu titik dan
banyak anggapan-anggapan “mungkin” yang menjadikan beberapa orang mngecap saya
ini PLIN-PLAN. Saya tidak bisa memilih dimana titik kebahagiaan saya. Ada
saat-saatnya saya menikmati pantai, pegunungan, daratan, kota, dan malam. Tapi
untuk memilih, saya tidak bisa, yang terucapkan oleh bibir saya hanya malam.
Ya.. m-a-l-a-m entah kenapa saya penyuka malam. Saat saya dulu kecil dan
menumpang kereta dari st.pasar senen Jakarta menuju st.pasar turi Surabaya saya
selalu menunggu moment malam dalam perjalanan itu. saya selalu minta posisi duduk
di dekat jendela dan harus bertengkar dengan kakak saya terlebih dahulu demi
melihat rumah dengan lampu menyala di sepanjang laju kereta api, juga antusias melihat antrian kendaraan berhenti
dengan lampu sotot berwarna orange dan ditambah bunyi lampu merah palang kereta
api. Itu titik kepuasan yang saya dapat saat malam di laju kereta api. Malam
begitu indah menurut saya. Entah menurut sebagian orang lagi?? Malam itu tidak
gelap malam itu tidak kelam. Saya terus membayangkan malam dengan keindahannya.
saat itu saya sedang duduk di mobil tronton dengan beberapa orang lainnya
menuju titik pendakian awal gn.Gede Pangrango. Anda tahu pukul berapa. Ya.. 12
malam. Titik jam yang menjadi poin pemberitahuan bahwa malam akan segera
berkhir. Namun bukan berarti akan terang dan bukan berarti gelap pula. Saya
sangat sangat merasakan udara malam dengan laju troton yang cepat dan melihat kearah
belakang kendaarn lain sedang melaju juga dengan kecepatannya masing-masing.
Wahhhhh pertama kalinya saya keluar jam 12 malam.titik kepuasan saya merasakan
malam bebas berawal disini. Dinginnya udara malam di puncak saat itu tidak
samasekali menghalangi saya untuk tetap betekat sampai puncak dan melihat malam
di kota dari atas puncak. Start hiking dimulai pukul 2 pagi. kami melaju dengan
membawa beban berat dimasing-masing punggung dengan iringan doa. Perjalanan
terhenti untuk istirahat sejenak dan titik kebahagiaan saya muncul beserta
hiangnya rasa lelah seketika saat saya menoleh kearah kanan. Dan kamu tau apa
yang saya liat. Yaa… malam, sinar lampu, dan kota. Ahh tidak penting bagi saya
untuk mengetahui kota apa itu. yang terpenting anggota kebahagiaan saya ada
disana yaitu kamu malam, kamu sinar lampu, dan kamu kota. Sampai di Tempat
pekemahan saat itu sudah pagi, sudah terang dan saat itu malam sedang
beristirahat. Dalam hati ku bicara “malam kemarilah segera, ingin aku
berbincang kembali untuk berkeluh kesah akan lelahku ini, hiking untuk pertama
kalinya”. Aku setia menunggu malam, aku ingin berkenalan dengan padang edelwais
di hadapanku saat itu. tetapi dia tidak begitu akrab, aku tetap membutuhkanmu
malam. Tetapi edelwais itu baik selalu menjaga keindahan pagi dan selalu
menyambut para hiker yang tiba di padang perkemahan Suryakencana. Teman teman
ecinta pagii, maafkan aku karna tidak membawakanmu edelwais yang cantik dia
sedang tidak mekar, nanti bulan oktober barulah mekar. Aku segera berbisik
kepada edelwais “hai edelwais aku telah berbohong kepada teman-temanku pecinta
pagi, bahwa kau belumlah mekar, temanku pasti akan kecewa” lalu edelwais
berbisik padaku “terimakasih telah menjaga ku dan teman-teman disini, aku
merindukan mu untuk datang kembali ke sini”.
Malam di padang
edelwais tiba, dan edelwais pun beristirahat, saatnya aku bertemu dengan
teman-teman anggota kebahagiaanku. “Hai malam, lama sekali kau datang. Aku
sampai tidak kuat menunggumu terlalu lama. Dingin ini menusukku hingga aku
hampir tak kuat menahannya. Kemarilah malam. Lihattt disekitar kita ada anggota
baru. Sinar senter dan api unggun, juga suara sorak sorai pendaki lain yang
saling bersautan, membuat kami tidak berdua lagi J” sungguh hal sangat aku kangenin saat hiking
jamboree alam ini. Ahhhhhh saying sekali panitia menyuruh beberapa pendaki
untuk mematikan api unggun karena keadaan kering hingga menghawatirkan terjadi
kerusakan alam yang tidak diinginkan. Terpasa harus dipatuhi. Aku ingin segera
bertanya pada rumput dan edelwais “ apakah api dan tanaman tidak berteman???”
sayangnya mereka sedang tertidur aku tidak berani mengganggunya. Ohh malam aku
kesepian dingin inni semakin menusukku. Api tidak diperbolehkan sinar lampu pun
mulai hilang “hei dingin, tidakkah kau ingin mengurangi kadar suhumu, sehingg
kita masih ingin menkmati alam dengan malam dan soraksorai pendaki yang sama
bahagia denganku?” malam.. dingin berkata padaku “ini lah aku dan suhuku setiap
malam, kau orang baru mungkin belum kenal, tetapi seringlah datang kemari, maka
kau akan terbiasa”. Belajar dari dingin, bahwa kita harus mengerti keadaan.
Saat itu musim kering jadi tidak diperbolehkan menyaakan api unggun. Data itu
malam, memang suhu malam seperti itu di dataran tinggi. Aku harusnya mengerti
keadaan. Aku selalu mencari kebahagiaan bagi diriku dengan menginginkan anggota
kebahagiaanku hadir semuanya. Tetapi aku tidak sadar bahwa ada kebahagiaan
edelwais dan dingin yang harusnya aku mengerti, bahwa edelwais akan bahagia
jika dia tidak dipetik dan dibiarkan berbunga, jatuh dan kemudian akan tumbuh
lagi, siklus tanaman. Dan dingin, maaf harusnya aku membiarkan mu dengan
pekerjaanmu memberi suhu yang sesuai dengan dataran tinggi pada umumnya.
Ternyata ada
saatnya kebahagiaan kita bukanlah kebahagiaan oranglain, alam atau hal lain.
Jadi harusnya kita memperhatikan dan bersyukur untuk membagi kebahagiaan kita
dengan mengerti kebahagiaan orang lain, hal lain, atau alam.
Kembali ketopik
APA INI YANG DISEBUT PLIN PLAN??
Aku menginginkan
orang lain bahagia atas diriku.
Dengan aku ikut
HMJ/BEM aku berharap orang yang berusaha mengajakku akan merasa bahagia, tetapi
aku tahu busuknya organisasi kampus, sbenarnya aku tidak ingin. Lalu Aku Bimbang.
Dengan aku
memilih pulang hari kamis, maka aku mengecewakan temanku dengan tidak mngikuti
pelantikan BEM di hari jumatnya tetapi aku menyetujui keinginan teman kostan ku
dan suruhan ibu untuk pulang di hari kamis. Lalu Aku
Bimbang.
Dengan aku
memilih ajakan k&k datang hari minggu ke serang untuk meng iya kan nya ikut
dengannya berjalan-jalan lalu aku mengecekawan adikku yang memintaku
mengantarkannya mengunjuki sebuah toko baju baru. Lalu Aku
Bimbang.
Dengan aku
memilih tidak segera memutuskan pulang hari jumat atau sabtu atau minggu karena
aku memikirkan kebahagiaan temanku yang lain yang akan kecewa jika aku tidak
meng-iya kan permintaanya alu mengecewakan yang lain karena tidak memenuhi
keiinginan teman kosatnku utnuk pulang bareng. Lalu Aku
bimbang.
Lalu banyak hal
lain semacamnya yan membuat aku bimbang dan tidak segera memutuskan pilihan
akan suatu hal yang berkaitan dengan oranglain, atau bahkan aku telah
memutuskan suatu hal, tetapi seketika berubah akan pertimbangan ini dan itu
yang membuat seseorang yang tadinya tidak kecewa menjadi kecewa. Ahhhhhh aku
tetap bimbang. Aku tidak tega. Aku bukan orang yang tegas.
Salahkah PLIN-PLAN?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar