Jumat, 01 Maret 2013

Why Iam So PLIN-PLAN ??


Why Iam So PLIN-PLAN ??

Di dunia ini banyak banget hal yang harus kita pilih. Dari mulai pilih jalan menuju warung terdekat dari rumah kita, milih teman terdekat, milih sekolah yang pas di hati sampai tak terhingga hal yang harus kita pilih. So.. hidup ini pilihan???

Sedetik, dua detik, tiga detik… saya harus berfikir untuk selanjutnya akan mengetik apa lagi dalam paper ini. Why iam so think harder? Itu karena saya tidak ingin menuliskan sesuatu yang pembaca tidak suka. Jadi saya perlu berpikir keras untuk menentukan huruf-huruf apa saja yang lalu akan dirangkai hingga menjadi kalimat dan paragraph sehingga dapat dinikmati dan mudah dimengerti pembaca. Ini adalah contoh kecil pilihan.

Terkadang hidup ini memang terlalu rumit untuk kita butuh berpikir dan kemudian memilih mana yang menurut kita tidak salah, tetapi tidak pula sepenuhnya akan benar.

Banyak hal yang mendasari saya memilih jalan hidup seperti ini. Penuh ombang ambing bagai di sebuah perahu.emmm satu-satunya perahu yang ada ditengah laut. Saat perahu itu dalam keadaan tenang disebabkan oleh ombak yang tenang pula. Itu bagai di titik aman dalam kehidupan. Titik nyaman melihat keindahan langit dan permukaan laut seluas mata memandang. Yang membuat 90% orang enggan beralih dari posisi itu. namun tak selamanya titik itu menjadi titik kebahagiaan. Ada saat-saatnya kamu sudah puas dengan melihat keindahan langit dan permukaan laut dan entah mau kemana setelahnya. Apakah akan terus berlayar di laut? Berputar-putar diposisi itu berusaha tetap berada diposisi nyaman saat ombak datang? Atau berpindah-pindah tetapi tetap berada di laut?

Sadarkah kamu bahwa saat kamu hanya memperhatikan langit dan permukaan laut, masih ada ikan dan terumbukarang yang indah di bawah permukaan laut. Dan masih ada berjuta-juta bintang di luar angkasa sana dengan keindahan galaksinya. Hidup ini luas tak terbataskan. Dan kamu ditugaskan oleh hati untuk memilih titik mana yang kamu idamkan utnuk menjadi titik kebahagiaanmu. Masih ada daratan. Pegunungan. Desa. Kota. Keindahan malam kota. Mall dan masih banyak lagi keindahan alam semesta yang menjadi sejuta hal yang perlu kamu pilih untuk menjadi titik kebahagiaan mu. 
Bersyukurlah yang diberikan kesempurnaan pancaindra.

Permasalahannya adalah, jika saya menyukai semua hal itu. maka saya ini dianggap plinplan???? Saya ingin merasakan itu semua dan menghargai keberadan titik titik koordinat alam semesta.satu per satu.
Mungkin mereka anggap saya maruk, mungkin mereka anggap saya tidak konsisten di satu titik dan banyak anggapan-anggapan “mungkin” yang menjadikan beberapa orang mngecap saya ini PLIN-PLAN. Saya tidak bisa memilih dimana titik kebahagiaan saya. Ada saat-saatnya saya menikmati pantai, pegunungan, daratan, kota, dan malam. Tapi untuk memilih, saya tidak bisa, yang terucapkan oleh bibir saya hanya malam. Ya.. m-a-l-a-m entah kenapa saya penyuka malam. Saat saya dulu kecil dan menumpang kereta dari st.pasar senen Jakarta menuju st.pasar turi Surabaya saya selalu menunggu moment malam dalam perjalanan itu. saya selalu minta posisi duduk di dekat jendela dan harus bertengkar dengan kakak saya terlebih dahulu demi melihat rumah dengan lampu menyala di sepanjang laju kereta api, juga  antusias melihat antrian kendaraan berhenti dengan lampu sotot berwarna orange dan ditambah bunyi lampu merah palang kereta api. Itu titik kepuasan yang saya dapat saat malam di laju kereta api. Malam begitu indah menurut saya. Entah menurut sebagian orang lagi?? Malam itu tidak gelap malam itu tidak kelam. Saya terus membayangkan malam dengan keindahannya. saat itu saya sedang duduk di mobil tronton dengan beberapa orang lainnya menuju titik pendakian awal gn.Gede Pangrango. Anda tahu pukul berapa. Ya.. 12 malam. Titik jam yang menjadi poin pemberitahuan bahwa malam akan segera berkhir. Namun bukan berarti akan terang dan bukan berarti gelap pula. Saya sangat sangat merasakan udara malam dengan laju troton yang cepat dan melihat kearah belakang kendaarn lain sedang melaju juga dengan kecepatannya masing-masing. Wahhhhh pertama kalinya saya keluar jam 12 malam.titik kepuasan saya merasakan malam bebas berawal disini. Dinginnya udara malam di puncak saat itu tidak samasekali menghalangi saya untuk tetap betekat sampai puncak dan melihat malam di kota dari atas puncak. Start hiking dimulai pukul 2 pagi. kami melaju dengan membawa beban berat dimasing-masing punggung dengan iringan doa. Perjalanan terhenti untuk istirahat sejenak dan titik kebahagiaan saya muncul beserta hiangnya rasa lelah seketika saat saya menoleh kearah kanan. Dan kamu tau apa yang saya liat. Yaa… malam, sinar lampu, dan kota. Ahh tidak penting bagi saya untuk mengetahui kota apa itu. yang terpenting anggota kebahagiaan saya ada disana yaitu kamu malam, kamu sinar lampu, dan kamu kota. Sampai di Tempat pekemahan saat itu sudah pagi, sudah terang dan saat itu malam sedang beristirahat. Dalam hati ku bicara “malam kemarilah segera, ingin aku berbincang kembali untuk berkeluh kesah akan lelahku ini, hiking untuk pertama kalinya”. Aku setia menunggu malam, aku ingin berkenalan dengan padang edelwais di hadapanku saat itu. tetapi dia tidak begitu akrab, aku tetap membutuhkanmu malam. Tetapi edelwais itu baik selalu menjaga keindahan pagi dan selalu menyambut para hiker yang tiba di padang perkemahan Suryakencana. Teman teman ecinta pagii, maafkan aku karna tidak membawakanmu edelwais yang cantik dia sedang tidak mekar, nanti bulan oktober barulah mekar. Aku segera berbisik kepada edelwais “hai edelwais aku telah berbohong kepada teman-temanku pecinta pagi, bahwa kau belumlah mekar, temanku pasti akan kecewa” lalu edelwais berbisik padaku “terimakasih telah menjaga ku dan teman-teman disini, aku merindukan mu untuk datang kembali ke sini”.

Malam di padang edelwais tiba, dan edelwais pun beristirahat, saatnya aku bertemu dengan teman-teman anggota kebahagiaanku. “Hai malam, lama sekali kau datang. Aku sampai tidak kuat menunggumu terlalu lama. Dingin ini menusukku hingga aku hampir tak kuat menahannya. Kemarilah malam. Lihattt disekitar kita ada anggota baru. Sinar senter dan api unggun, juga suara sorak sorai pendaki lain yang saling bersautan, membuat kami tidak berdua lagi J” sungguh hal sangat aku kangenin saat hiking jamboree alam ini. Ahhhhhh saying sekali panitia menyuruh beberapa pendaki untuk mematikan api unggun karena keadaan kering hingga menghawatirkan terjadi kerusakan alam yang tidak diinginkan. Terpasa harus dipatuhi. Aku ingin segera bertanya pada rumput dan edelwais “ apakah api dan tanaman tidak berteman???” sayangnya mereka sedang tertidur aku tidak berani mengganggunya. Ohh malam aku kesepian dingin inni semakin menusukku. Api tidak diperbolehkan sinar lampu pun mulai hilang “hei dingin, tidakkah kau ingin mengurangi kadar suhumu, sehingg kita masih ingin menkmati alam dengan malam dan soraksorai pendaki yang sama bahagia denganku?” malam.. dingin berkata padaku “ini lah aku dan suhuku setiap malam, kau orang baru mungkin belum kenal, tetapi seringlah datang kemari, maka kau akan terbiasa”. Belajar dari dingin, bahwa kita harus mengerti keadaan. Saat itu musim kering jadi tidak diperbolehkan menyaakan api unggun. Data itu malam, memang suhu malam seperti itu di dataran tinggi. Aku harusnya mengerti keadaan. Aku selalu mencari kebahagiaan bagi diriku dengan menginginkan anggota kebahagiaanku hadir semuanya. Tetapi aku tidak sadar bahwa ada kebahagiaan edelwais dan dingin yang harusnya aku mengerti, bahwa edelwais akan bahagia jika dia tidak dipetik dan dibiarkan berbunga, jatuh dan kemudian akan tumbuh lagi, siklus tanaman. Dan dingin, maaf harusnya aku membiarkan mu dengan pekerjaanmu memberi suhu yang sesuai dengan dataran tinggi pada umumnya.

Ternyata ada saatnya kebahagiaan kita bukanlah kebahagiaan oranglain, alam atau hal lain. Jadi harusnya kita memperhatikan dan bersyukur untuk membagi kebahagiaan kita dengan mengerti kebahagiaan orang lain, hal lain, atau alam.

Kembali ketopik APA INI YANG DISEBUT PLIN PLAN??
Aku menginginkan orang lain bahagia atas diriku.

Dengan aku ikut HMJ/BEM aku berharap orang yang berusaha mengajakku akan merasa bahagia, tetapi aku tahu busuknya organisasi kampus, sbenarnya aku tidak ingin. Lalu Aku Bimbang.
Dengan aku memilih pulang hari kamis, maka aku mengecewakan temanku dengan tidak mngikuti pelantikan BEM di hari jumatnya tetapi aku menyetujui keinginan teman kostan ku dan suruhan ibu untuk pulang di hari kamis. Lalu Aku Bimbang.
Dengan aku memilih ajakan k&k datang hari minggu ke serang untuk meng iya kan nya ikut dengannya berjalan-jalan lalu aku mengecekawan adikku yang memintaku mengantarkannya mengunjuki sebuah toko baju baru. Lalu Aku Bimbang.
Dengan aku memilih tidak segera memutuskan pulang hari jumat atau sabtu atau minggu karena aku memikirkan kebahagiaan temanku yang lain yang akan kecewa jika aku tidak meng-iya kan permintaanya alu mengecewakan yang lain karena tidak memenuhi keiinginan teman kosatnku utnuk pulang bareng. Lalu Aku bimbang.

Lalu banyak hal lain semacamnya yan membuat aku bimbang dan tidak segera memutuskan pilihan akan suatu hal yang berkaitan dengan oranglain, atau bahkan aku telah memutuskan suatu hal, tetapi seketika berubah akan pertimbangan ini dan itu yang membuat seseorang yang tadinya tidak kecewa menjadi kecewa. Ahhhhhh aku tetap bimbang. Aku tidak tega. Aku bukan orang yang tegas.

Salahkah PLIN-PLAN?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar