Saya INI tidak
HEBAT
Tak tau kenapa
saya tidak pernah menjadi nomer satu. Saya anak ke-2 dari tiga bersaudara, saya
anak ke-2 terakhir. Saya tidak pernah ranking 1, tapi rangking 2 pernah. Ehh
gak gak.. pernah deh dapet mukjizat kalo saya rangking 1 di pengajian TPA,
sampe sekarang masih inget nama guru ngaji
yang ngasih saya rangking itu BU Fathonah namanya. subhanallah banget
padahal ada yang lebih pinter dari saya lho. Tapi itu patut di syukuri. Stelah
itu gak ada ceritanya kalo saya jadi nomer 1.
TK, SD
SMP,SMA,MAHASISWA.. saya melewati jenjang pendidikan teratur itu alhadulillah
karena kerja keras ayah saya. Emm cerita TK saya TK Al-Hidayah dekat rumah saya
pun tidak pernah juara 1 dalam lomba saat TK tapi juara 2 pernah saat lomba
menggambar yang diadakan di masjid Al-fath klo gak salah. Ehhh bukan ding,
ternyata adik saya yang juara 2 mewarnai, wah kacau memori saya malah mencuri
memori adik saya yang juara. Ahhh saya tidak pernah juara J
ko senang? Kan saya sudah tau kalo saya tidak hebat.waktu TK juga ibu guru
mnyuruh muridnya untuk berlomba siapa cepat mencatat maka dia akan mendapat
hadiah gantungan kunci buah-buahan, buah semangka yang aku ingat saat itu.
entah aku pernah menjadi pencatat tercepat ke dua tiga empat lima dst saya
tidak ingat yang pasti saya tidak pernah menjadi pencatat tercepat nomer 1.
Saat SD apalagi, saya tidak pernah rangking 1, apalagi aktiv dikelas, karena
saya sangat pemalu, dan tidak pernah teralu memperhatikan pelajaran, jadi
suka-suka saya mau memperhatikan atau tidak, bahkan saya pernah ditertawakan
dikelas karena tidak bisa menjawab pertanyaan mudah guruku soal matematika dan
dipukullah tanganku karena tidak memperhatikan. Saat SMP pun aku tidak pernh
menjadi juara kelas. Tapi aku hanya pernah mendapat rangking sampai rangking 2.
Di SMP inilah aku mengerti bahwa walaupun kemampuan kita kurang, berbeda dengan
yang lain, mungkin dibawah yang lain. Tapi kita harus tetap bangga dengan
kemampuan diri sendiri. Walaupun kita hanya bisa menghafal agka 1-10.
Aku ya seperti
ini dengan keterbatasanku. Aku tidak sejenius anak kebanyakan yang mudah
menghafal pelajaran secepat kilat, lalu selalu menjadi juara 1 di kelas, dan
selalu mengangkat tangannya ketika guru bertnya “siapa yang bisa menjawab
pertanyaan ini?” dan kemudian menjawab. Aku tidak bisa aktiv dikelas sehingga
guru-guru tidak mengenaliku karena keaktivan ku itu. aku si pendiam yang hanya
mau berteman dengan teman wanita saja karena dulu aku tidak mau berbicara
dengan laki-laki- entah kenapa, sampai aku pernah dibilang bisu oleh teman SD
ku(laki-laki), saking aku tidak berani dengan laki-laki ditambah aku tidak suka
dengan tingkah nakal anak laki-laki di SD ku.
Aku ya seperti
ini dengan keterbatasanku. Saat SMP aku juga belum berani aktiv dikelas, lebih
kepada tidak penting jika aku aktiv hanya agar guruku mengenaliku. Aku benci
metode seperti itu hingaa kini, menyuruh murid-muridnya berlomba untuk menjawab
sebuah pertanyaan. Entah kenapa aku benci metodenya. Aku suka metode belajar
seperti persentasi. Sangat suka sekali tapi setelah mahasiswa aku malah benci metode
itu karena tidak efektif. Kenpa aku benci metode kecepatn itu, memang.. mungkin
sebagian guru berpendapat bahwa itu menambah motivasi siswa untuk belajar,
menambah Susana dikelas agar tidak sepi, memudahkan guru saat sedang malas
menjelaskan. Ahhh banyak alasan. Tapi apakah guru melihat sisi lain dari mereka
yang tidak memiliki kemampuan kecapatan dalam menangkap dan berfikir. Lalu
menganggap mereka bodoh dan dikesampingkan. Sadarkah guru bahwa mereka tidak
bodoh mereka hanya sedikit terlambat untuk menemukan kebenaran jawaban yang
benar menurutmu.mereka mempersiapkan jawaban terbaik yang akan mereka sajikan
untuk mu. Mungkin mereka lama menjawab karena mereka berfikir dulu, dan tidak
mau asal menjawab atau mempermainkan pertanyaanmu. Salahkah mereka jika
berfikir terlalu lama demi meyakini jawaban yang sebenar-benarnya atas
pertanyaan mu Guru??? Sadarkah?? Mereka yang paling menghargaimu.
Sekali lagi kita
harus bangga terhadap diri sendiri dengan keterbatasan kemampuan kita. Ikhlas lah kamu jika menuntut ilmu, tuluslah kamu jika ingin
mendapat ilmu. Juga dalam
pertemanan. Terapkan ikhalas dan tulus. Maka akan berbuah manis atitud hati mu
itu. aku bangga terhadap diri ku. Pencapaian kecil yang harus aku syukuri
adalah disaat guru-guru mengenaliku bukan karena
aku antusias dikelas untuk mengangkat tangan yang paling pertama demi menjawab
pertanyaanya (karena aku tidak pernah melakukan itu), juga bukan karena aku
mengajak ngobrol dan mendekati guruku agar aku dikenal olehnya(karena aku tidak
berani carimuka kepada guruku). Tapi karena atitud yang aku terapkan dan tanpa
putus usaha aku terus belajar walau lagi-lagi aku tidak mendapat rangking 1.
Apa rasanya ya rangking ????? penasaran, sampai sekarang guruku SMP ku yang selalu
memberi nilai agamaku 90 dan 100 masih ingat denganku, guru biologiku yang menghargai buku catatannku yang
dijadikannya the best of notes dikelas masih ingat aku. Dan guru elektroku yang
memberiku sertifikat penghargaan atas prestasi nilai baik yang konsisten di
matapelajaran itu masih ingat aku, juga guru bahasa inggrisku yang selalu
menguji kemampuanku masih ingat aku. Aku bangga atas diriku dengan keterbatasan
kemampuanku.
Begitu juga saat
aku SMA ku masih belum bisa membuka mulutku tiap kali metode mengajar yang aku
benci itu diterapkan dikelas bahkan oleh guru favoritku. Bpk Aziz. Aku tidak
tertrik untuk berkoar-koar dikelas lalu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh
guru. Entah kenapa akumasih bingung kenapa aku tidak antusias, begitu juga
dengan memberi pertanyaan kepada guruku apabila ada hal yang kurang dimengerti.
Apa aku sombong? Dengan tidak memberikan pertanyaan kepada guru. Aku hanya
mencob memahami sendiri pelajaran yang aku anggap sudah selesai dan aku tau
guruku telah memberikn penjelasan yang sejelas-jelasnya, sehingga aku tidak
perlu bertanya lagi, sekalipun guru memaksa memberikan pertanyaan kedua kalinya
“ apa ada pertanyaan anak-anak??” aku tetap tidak antusias. Tetapi aku bangga
diriku, lagi-lagi guru mengenaliku bukan karena aku aktiv dikelas dan
berkoarkoar sok pintar. Tetpi karena akumenunjukan nilai baik yang konsisten
terhadap nilai matematikaku yang selalu baik. Padahal waktu SD ku sempat
ditertawakan satu kelas dan dpukul oleh guruku karena aku tidak bisa menjawab
soal matematika yang begitu mudah. Tapi sekarag aku dapat berbangka dengan
diriku. Aku selalu diberikan soalnya berbeda dari temanyang lain, soal yang
lebih sulit pasti, itu karena guruku menilaiku terlalu berlebihan, padahal aku
hanya mngerti soal yang sudah diajarkan olehnya, yang belum diajarkan.. ya aku
belum bisa asal mengerjakannya.hehehe.. alhasil aku menjawab belum bisa
mengerjakan soal berbeda itu. dengan raut uka sedikit kecewa guruku berkata
“emm yasudah tidak apa-apa nanda”. Aku
pun pernah berbangga karena ada guru bahasa inggrisku yang berniat
mendelegasikan aku untuk mengikuti lomba debat bahasa inggris di luar sekolah.
Itu pun karena berlebihan mereka menilaiku.hihhi aku tidak terlalu bisa bahasa
inggis. Aku hanya bisa mengerti apa yang telah mereka pelajari, yang belum di
pelajari ya aku belum bisa. Walau lomba itu urung karena 1 dan lain hal. Aku
tetap bangga terhadap diriku. Aku tetap suka bahasa inggris walau sampai
sekarang aku belum lancar, tapi nanti pasti aku
bisa, aku bangga tetapi tetap tidak berenti belajar dan berusaha. Satu
pencapaianku aku berhasil menjelaskan suatu teori yang beum sempat
dijelaskanoleh guruku namun aku telah memahaminya. Aku bukan orang pertama yang
maju kedepan lalu menyodorkan kertas berisikan teori dari suatu gaya tekan yang
di jelaskan guruku, tetapi aku satu-satunya yang paling tepat menjelaskan teori
itu dan yang paling benar. Hh.. aku lega
karena tidak peru menjelaskan lewat suaraku namun lewat tulisan. Hanya lewat
tulisan aku berani mengungkapkan apa yang ada dipikiranku. Terimakasih guruku
pak Aziz. Karena kalo pertanyaan oleh guruku itu harus dijawab lagilagi dengan
mengangkat tangan dan jelskan lewat suara, mungkin aku tidak bisa akan menjadi
yang palig benar saat itu. karena
megangkat tangan saja tidak berani.
Saat aku
mahasiswa onteksnya sama dengan SMA hanya berbeda lingungan dan kita perlu
banyak memilih saat itu, mulai dari memilih teman, kelas, UKM (semacam ekskul)
dan organisasi kemahasiswaan. Lagi aku tidak menjadi nomersatu di kelas, dosen
tidak lagi memperdulikan, dan aku makin tidak perduli, smaselali tidak
antusias, aku semakin yakin dengan mata kuliah yang aku suka ya itu lah mata
kuliah yang akan aku perhatikan. Jadi matakuliah yang membuatku ngntuk tidak
lagi aku perhatikan. Mungkin itu salah, tapi itulah aku. Aku tidak bisa
memaksan kehendakku untuk berpura-pura memperhatikan penjelasan oleh dosen
dikelas. Aku betekat untuk berorganisasi sejak aku masuk kuliah banyak mafaat
dan cerita baru yang aku dapatkan didunia kampus, tapi lama kelamaan kenapa aku
makin banyakmendengar keributan dan kekotoran organisasi kampus?? Kupingku ini
sudah capek mendengar dari kubu yang saling beradu pendapat dan mempertahankan
arumen demi berebut kekuasaan. Hingga larut malam, dari kampus sampai nongkrong
di sego kucing alun-alun serang kami membicarakan kampus, dari baik, iba,
kasihan, marah, dan berbagai macam cerita yang semakin aku muak, tetapi aku
tetap bertahan di organisasi, hingga waktuku tersita waktu untuk teman-teman
kosatn ku, waktu untuk sekedar mengirimkan sms keada temn SMA ku sekedar
menanyakan kabar pun tidak sempat. Juga waktu untuk keluargaku. Aku bagai orang
asing dirumah yang hanya berbincang lewat dunia maya dengan teman-teman
organisasi kampusku lalu kembali membicarakan malasah kampus lewat grup dan
chating. Terlalu asik sampai lupa mengobrol dengan keluargaku. Tidakkkk ini
semakin kacau. Saat acara-acara besar dikampus, mau tidak mau aku harus memberi
surat dispen untuk dosenku agar percaya bahwa kami sedang ada kegiatan
organisasi kampus. Tidak banyak dosen yang mentoleransi itu. hhh pasrah deh.
Aku semakin menikmati organisasi sampai dispen saja aku anggap hal yang wajar.
Bahkan teman kelasku pun luput dari perhatianku saking aku sibuk dengan
organisasi. Aku jarang sekali
bercengkrama dengan mereka. Saat aku melihat hasil KHS ku yangmenunjukan
penurunan nilaiku, aku semakin sadar bahwa aku telah berlebihan dan sampai
sinilah batas kemampuanku. Aku bertekat setelah 2 periode di organisasi himpnan
mahasiswa jurusan aku tidak lagi berniat masuk organisasi apa-apa. Aku ingin
merajut kembali apa yang sudah aku tinggalkan. Bermain, berbincang dan makan
malam dengan temen kostn. Berbincang dan duduk-duduk santai dengan teman satu
kelas. Berbincang dan pulang lebih cepat ke rumah tapa ada perubahn jadwal yang
menggagalkan aku pulang, nilai akademik mungkin bukan apa-apa itu hanya alsan
yang aku pakai jika orang bertaya mengapa aku tidak melanjutkan organisasi,
jawabnya “karena nilai akademikku turun”. Padahal ada hal lain yang mendasariku
untuk aku berhenti berorganisasi. Yaitu menjalin kembali hubungan dengan
orang-orang terdekatku yang luput dai perhatianku juga aku harus naik satu
langkah dan tidak stuck di organisasi kampus, melainkan dunia perusahaan. Iru
yang mendasari aku utnuk berhenti organisasi dikampus.
Aku tidak hebat.
Tidak sehebat mereka yang dapat menjaga
nilai akademik tetap baik, menjaga relasi dengan Teman-teman lama. Juga relasi
teman-teman dekat yang luput dari perhatianku karena kesibukanku di organisasi.
Aku ini TIDAK hebat.
Jadi INI pilihanku.
Aku bukanlah
wanita muda sang peraih medali emas perak perunggu dalam olimpiade para
anak-anak jenius yang dibanggaan pemerintah saat itu dan dilupakan kemudian.
Aku juga
bukanlah anak yang rajin seperti yang diinginkan oleh rara orangtua, tetapi aku
hanya dapat membantu orangtua seperlunya. Dengan tidak mencela masakan ibuku,
dengan selalu bersedia suruhan ayahku dan selalu mendengarkan saat keduanya
menasihatiku.
aku bukanlah
anak pandai, aktiv dan terkenal. Tetapi
aku hanya berusaha bembagi apa yang aku punya dengan mereka termasuk membagi
senyum dan tawa.
Aku bangga
diriku
BERSYUKURLAH
KAMU YANG MEMILIKI KELENGKAPAN PANCAINDARA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar