Jumat, 01 Maret 2013

Saya INI tidak HEBAT


Saya INI tidak HEBAT

Tak tau kenapa saya tidak pernah menjadi nomer satu. Saya anak ke-2 dari tiga bersaudara, saya anak ke-2 terakhir. Saya tidak pernah ranking 1, tapi rangking 2 pernah. Ehh gak gak.. pernah deh dapet mukjizat kalo saya rangking 1 di pengajian TPA, sampe sekarang masih inget nama guru ngaji  yang ngasih saya rangking itu BU Fathonah namanya. subhanallah banget padahal ada yang lebih pinter dari saya lho. Tapi itu patut di syukuri. Stelah itu gak ada ceritanya kalo saya jadi nomer 1.
TK, SD SMP,SMA,MAHASISWA.. saya melewati jenjang pendidikan teratur itu alhadulillah karena kerja keras ayah saya. Emm cerita TK saya TK Al-Hidayah dekat rumah saya pun tidak pernah juara 1 dalam lomba saat TK tapi juara 2 pernah saat lomba menggambar yang diadakan di masjid Al-fath klo gak salah. Ehhh bukan ding, ternyata adik saya yang juara 2 mewarnai, wah kacau memori saya malah mencuri memori adik saya yang juara. Ahhh saya tidak pernah juara J ko senang? Kan saya sudah tau kalo saya tidak hebat.waktu TK juga ibu guru mnyuruh muridnya untuk berlomba siapa cepat mencatat maka dia akan mendapat hadiah gantungan kunci buah-buahan, buah semangka yang aku ingat saat itu. entah aku pernah menjadi pencatat tercepat ke dua tiga empat lima dst saya tidak ingat yang pasti saya tidak pernah menjadi pencatat tercepat nomer 1. Saat SD apalagi, saya tidak pernah rangking 1, apalagi aktiv dikelas, karena saya sangat pemalu, dan tidak pernah teralu memperhatikan pelajaran, jadi suka-suka saya mau memperhatikan atau tidak, bahkan saya pernah ditertawakan dikelas karena tidak bisa menjawab pertanyaan mudah guruku soal matematika dan dipukullah tanganku karena tidak memperhatikan. Saat SMP pun aku tidak pernh menjadi juara kelas. Tapi aku hanya pernah mendapat rangking sampai rangking 2. Di SMP inilah aku mengerti bahwa walaupun kemampuan kita kurang, berbeda dengan yang lain, mungkin dibawah yang lain. Tapi kita harus tetap bangga dengan kemampuan diri sendiri. Walaupun kita hanya bisa menghafal agka 1-10.
Aku ya seperti ini dengan keterbatasanku. Aku tidak sejenius anak kebanyakan yang mudah menghafal pelajaran secepat kilat, lalu selalu menjadi juara 1 di kelas, dan selalu mengangkat tangannya ketika guru bertnya “siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini?” dan kemudian menjawab. Aku tidak bisa aktiv dikelas sehingga guru-guru tidak mengenaliku karena keaktivan ku itu. aku si pendiam yang hanya mau berteman dengan teman wanita saja karena dulu aku tidak mau berbicara dengan laki-laki- entah kenapa, sampai aku pernah dibilang bisu oleh teman SD ku(laki-laki), saking aku tidak berani dengan laki-laki ditambah aku tidak suka dengan tingkah nakal anak laki-laki di SD ku.
Aku ya seperti ini dengan keterbatasanku. Saat SMP aku juga belum berani aktiv dikelas, lebih kepada tidak penting jika aku aktiv hanya agar guruku mengenaliku. Aku benci metode seperti itu hingaa kini, menyuruh murid-muridnya berlomba untuk menjawab sebuah pertanyaan. Entah kenapa aku benci metodenya. Aku suka metode belajar seperti persentasi. Sangat suka sekali tapi setelah mahasiswa aku malah benci metode itu karena tidak efektif. Kenpa aku benci metode kecepatn itu, memang.. mungkin sebagian guru berpendapat bahwa itu menambah motivasi siswa untuk belajar, menambah Susana dikelas agar tidak sepi, memudahkan guru saat sedang malas menjelaskan. Ahhh banyak alasan. Tapi apakah guru melihat sisi lain dari mereka yang tidak memiliki kemampuan kecapatan dalam menangkap dan berfikir. Lalu menganggap mereka bodoh dan dikesampingkan. Sadarkah guru bahwa mereka tidak bodoh mereka hanya sedikit terlambat untuk menemukan kebenaran jawaban yang benar menurutmu.mereka mempersiapkan jawaban terbaik yang akan mereka sajikan untuk mu. Mungkin mereka lama menjawab karena mereka berfikir dulu, dan tidak mau asal menjawab atau mempermainkan pertanyaanmu. Salahkah mereka jika berfikir terlalu lama demi meyakini jawaban yang sebenar-benarnya atas pertanyaan mu Guru??? Sadarkah?? Mereka yang paling menghargaimu.
Sekali lagi kita harus bangga terhadap diri sendiri dengan keterbatasan kemampuan kita. Ikhlas lah kamu jika menuntut ilmu, tuluslah kamu jika ingin mendapat ilmu.  Juga dalam pertemanan. Terapkan ikhalas dan tulus. Maka akan berbuah manis atitud hati mu itu. aku bangga terhadap diri ku. Pencapaian kecil yang harus aku syukuri adalah disaat guru-guru mengenaliku bukan karena aku antusias dikelas untuk mengangkat tangan yang paling pertama demi menjawab pertanyaanya (karena aku tidak pernah melakukan itu), juga bukan karena aku mengajak ngobrol dan mendekati guruku agar aku dikenal olehnya(karena aku tidak berani carimuka kepada guruku). Tapi karena atitud yang aku terapkan dan tanpa putus usaha aku terus belajar walau lagi-lagi aku tidak mendapat rangking 1. Apa rasanya ya rangking ????? penasaran, sampai sekarang guruku SMP ku yang selalu memberi nilai agamaku 90 dan 100 masih ingat denganku, guru biologiku  yang menghargai buku catatannku yang dijadikannya the best of notes dikelas masih ingat aku. Dan guru elektroku yang memberiku sertifikat penghargaan atas prestasi nilai baik yang konsisten di matapelajaran itu masih ingat aku, juga guru bahasa inggrisku yang selalu menguji kemampuanku masih ingat aku. Aku bangga atas diriku dengan keterbatasan kemampuanku.
Begitu juga saat aku SMA ku masih belum bisa membuka mulutku tiap kali metode mengajar yang aku benci itu diterapkan dikelas bahkan oleh guru favoritku. Bpk Aziz. Aku tidak tertrik untuk berkoar-koar dikelas lalu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Entah kenapa akumasih bingung kenapa aku tidak antusias, begitu juga dengan memberi pertanyaan kepada guruku apabila ada hal yang kurang dimengerti. Apa aku sombong? Dengan tidak memberikan pertanyaan kepada guru. Aku hanya mencob memahami sendiri pelajaran yang aku anggap sudah selesai dan aku tau guruku telah memberikn penjelasan yang sejelas-jelasnya, sehingga aku tidak perlu bertanya lagi, sekalipun guru memaksa memberikan pertanyaan kedua kalinya “ apa ada pertanyaan anak-anak??” aku tetap tidak antusias. Tetapi aku bangga diriku, lagi-lagi guru mengenaliku bukan karena aku aktiv dikelas dan berkoarkoar sok pintar. Tetpi karena akumenunjukan nilai baik yang konsisten terhadap nilai matematikaku yang selalu baik. Padahal waktu SD ku sempat ditertawakan satu kelas dan dpukul oleh guruku karena aku tidak bisa menjawab soal matematika yang begitu mudah. Tapi sekarag aku dapat berbangka dengan diriku. Aku selalu diberikan soalnya berbeda dari temanyang lain, soal yang lebih sulit pasti, itu karena guruku menilaiku terlalu berlebihan, padahal aku hanya mngerti soal yang sudah diajarkan olehnya, yang belum diajarkan.. ya aku belum bisa asal mengerjakannya.hehehe.. alhasil aku menjawab belum bisa mengerjakan soal berbeda itu. dengan raut uka sedikit kecewa guruku berkata “emm yasudah tidak apa-apa nanda”.  Aku pun pernah berbangga karena ada guru bahasa inggrisku yang berniat mendelegasikan aku untuk mengikuti lomba debat bahasa inggris di luar sekolah. Itu pun karena berlebihan mereka menilaiku.hihhi aku tidak terlalu bisa bahasa inggis. Aku hanya bisa mengerti apa yang telah mereka pelajari, yang belum di pelajari ya aku belum bisa. Walau lomba itu urung karena 1 dan lain hal. Aku tetap bangga terhadap diriku. Aku tetap suka bahasa inggris walau sampai sekarang aku belum lancar, tapi nanti pasti aku  bisa, aku bangga tetapi tetap tidak berenti belajar dan berusaha. Satu pencapaianku aku berhasil menjelaskan suatu teori yang beum sempat dijelaskanoleh guruku namun aku telah memahaminya. Aku bukan orang pertama yang maju kedepan lalu menyodorkan kertas berisikan teori dari suatu gaya tekan yang di jelaskan guruku, tetapi aku satu-satunya yang paling tepat menjelaskan teori itu dan yang paling benar.  Hh.. aku lega karena tidak peru menjelaskan lewat suaraku namun lewat tulisan. Hanya lewat tulisan aku berani mengungkapkan apa yang ada dipikiranku. Terimakasih guruku pak Aziz. Karena kalo pertanyaan oleh guruku itu harus dijawab lagilagi dengan mengangkat tangan dan jelskan lewat suara, mungkin aku tidak bisa akan menjadi yang palig benar saat itu. karena  megangkat tangan saja tidak berani.
Saat aku mahasiswa onteksnya sama dengan SMA hanya berbeda lingungan dan kita perlu banyak memilih saat itu, mulai dari memilih teman, kelas, UKM (semacam ekskul) dan organisasi kemahasiswaan. Lagi aku tidak menjadi nomersatu di kelas, dosen tidak lagi memperdulikan, dan aku makin tidak perduli, smaselali tidak antusias, aku semakin yakin dengan mata kuliah yang aku suka ya itu lah mata kuliah yang akan aku perhatikan. Jadi matakuliah yang membuatku ngntuk tidak lagi aku perhatikan. Mungkin itu salah, tapi itulah aku. Aku tidak bisa memaksan kehendakku untuk berpura-pura memperhatikan penjelasan oleh dosen dikelas. Aku betekat untuk berorganisasi sejak aku masuk kuliah banyak mafaat dan cerita baru yang aku dapatkan didunia kampus, tapi lama kelamaan kenapa aku makin banyakmendengar keributan dan kekotoran organisasi kampus?? Kupingku ini sudah capek mendengar dari kubu yang saling beradu pendapat dan mempertahankan arumen demi berebut kekuasaan. Hingga larut malam, dari kampus sampai nongkrong di sego kucing alun-alun serang kami membicarakan kampus, dari baik, iba, kasihan, marah, dan berbagai macam cerita yang semakin aku muak, tetapi aku tetap bertahan di organisasi, hingga waktuku tersita waktu untuk teman-teman kosatn ku, waktu untuk sekedar mengirimkan sms keada temn SMA ku sekedar menanyakan kabar pun tidak sempat. Juga waktu untuk keluargaku. Aku bagai orang asing dirumah yang hanya berbincang lewat dunia maya dengan teman-teman organisasi kampusku lalu kembali membicarakan malasah kampus lewat grup dan chating. Terlalu asik sampai lupa mengobrol dengan keluargaku. Tidakkkk ini semakin kacau. Saat acara-acara besar dikampus, mau tidak mau aku harus memberi surat dispen untuk dosenku agar percaya bahwa kami sedang ada kegiatan organisasi kampus. Tidak banyak dosen yang mentoleransi itu. hhh pasrah deh. Aku semakin menikmati organisasi sampai dispen saja aku anggap hal yang wajar. Bahkan teman kelasku pun luput dari perhatianku saking aku sibuk dengan organisasi.  Aku jarang sekali bercengkrama dengan mereka. Saat aku melihat hasil KHS ku yangmenunjukan penurunan nilaiku, aku semakin sadar bahwa aku telah berlebihan dan sampai sinilah batas kemampuanku. Aku bertekat setelah 2 periode di organisasi himpnan mahasiswa jurusan aku tidak lagi berniat masuk organisasi apa-apa. Aku ingin merajut kembali apa yang sudah aku tinggalkan. Bermain, berbincang dan makan malam dengan temen kostn. Berbincang dan duduk-duduk santai dengan teman satu kelas. Berbincang dan pulang lebih cepat ke rumah tapa ada perubahn jadwal yang menggagalkan aku pulang, nilai akademik mungkin bukan apa-apa itu hanya alsan yang aku pakai jika orang bertaya mengapa aku tidak melanjutkan organisasi, jawabnya “karena nilai akademikku turun”. Padahal ada hal lain yang mendasariku untuk aku berhenti berorganisasi. Yaitu menjalin kembali hubungan dengan orang-orang terdekatku yang luput dai perhatianku juga aku harus naik satu langkah dan tidak stuck di organisasi kampus, melainkan dunia perusahaan. Iru yang mendasari aku utnuk berhenti organisasi dikampus.
Aku tidak hebat. Tidak  sehebat mereka yang dapat menjaga nilai akademik tetap baik, menjaga relasi dengan Teman-teman lama. Juga relasi teman-teman dekat yang luput dari perhatianku karena kesibukanku di organisasi.
Aku ini TIDAK hebat.  Jadi INI pilihanku.
Aku bukanlah wanita muda sang peraih medali emas perak perunggu dalam olimpiade para anak-anak jenius yang dibanggaan pemerintah saat itu dan dilupakan kemudian.
Aku juga bukanlah anak yang rajin seperti yang diinginkan oleh rara orangtua, tetapi aku hanya dapat membantu orangtua seperlunya. Dengan tidak mencela masakan ibuku, dengan selalu bersedia suruhan ayahku dan selalu mendengarkan saat keduanya menasihatiku.
aku bukanlah anak pandai, aktiv dan terkenal.  Tetapi aku hanya berusaha bembagi apa yang aku punya dengan mereka termasuk membagi senyum dan tawa.
Aku bangga diriku
BERSYUKURLAH KAMU YANG MEMILIKI KELENGKAPAN PANCAINDARA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar